Senin, 07 Desember 2020

NKCTHI Movie Review: Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini, The Wound That is Hidden Behind Happiness

NKCTHI Movie Review: Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini, The Wound That is Hidden Behind Happiness

 


Film NKCTHI (Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini). Foto: Istimewa

Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI) is an Indonesian movie that was released on 2 January this year. This movie directed by Angga Dwimas Sasongko and adapted from a book by Marcella FP with the same title. Not inferior to the book, the movie was also welcomed very well by the public. Awan, Aurora, Angkasa, Kale, Narendra, and Ajeng are the main characters in this movie were played by Rachel Amanda, Sheila Dara Aisha, Rio Dewanto, Ardhito Pramono, Donny Damara, and Susan Bachtiar.

This movie tells the story of three siblings, namely, Angkasa (eldest, male), Aurora (middle, female), and Awan (youngest, female) who lived in families that looked happy. In fact, the family has trauma covered by the father to make family members happy. The plot in this movie is very unbelievable.

One dialogue that most memorable for me is when Kale said and wrote in Awan's hand that had been cracked in an accident. He said, “Sabar, satu persatu” or in English, “Patience, one by one”. When Awan’s friends wrote encouraging words for Awan. Instead, Kale said and writes reminder words that patience is the key to all problems that come into our lives.

On a scale of 1-5, I would give 4 stars to this movie. This rating tells that this movie is more than worth watching. I recommend this movie to watch, because almost all the stories in this movie are very related to our daily lives, about falling, getting up, and holding on. This movie teaches us that life cannot be relied on by others, we have to work on it ourselves, make our own decisions, and create our own happiness. The movie also teaches us to accept reality and not cover wounds by pretending to be happy. In my opinion, this movie is worth watching for those aged 17 and over, because the problems in this movie are mostly experienced by those aged 17 years and over, a time when someone is looking for an identity. For those who haven’t had time to watch this movie while playing in theaters, you can still watch it on Netflix.


#englishsection #NKCTHImovie #reviewmovie

Sabtu, 26 September 2020

MERELAKAN ORANG YANG PERGI DARI HIDUP KITA

Pelajaran Hidup dari Merelakan Orang yang Pergi dari Hidup Kita




    Dalam hidup, ada yang datang dan pergi. Ada yang datang menetap, tapi lebih banyak yang hanya singgah sesaat. Tapi, dari setiap pertemuan dan perpisahan selalu ada pelajaran penting yang bisa kita dapatkan.

    Seperti kebanyakan orang yang ditinggalkan, saya juga merasa kehilangan, hampir putus harapan dan merasa bahwa hidup ini tidak adil. Sampai pada satu titik di mana akhirnya saya menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita pasti memiliki alasan.

    Dari kehilangan itu, perlahan saya mulai merelakan, dan menemukan banyak pelajaran hidup. Saya juga lebih bisa memahami hakikat hidup ini dari merelakan seseorang yang pernah begitu berarti.

    Tahu apa pelajaran hidup yang saya dapatkan?

    Pertama, akhirnya saya sadar bahwa hakikat hidup adalah sementara. Tidak ada yang benar-benar menetap, karena cepat atau lambat orang-orang yang ada di dalam hidup kita satu persatu akan pergi dan memilih jalannya sendiri-sendiri.


    Mungkin kalian pernah dengar kata-kata bahwa: "semakin dewasa, seseorang akan semakin merasa sendirian" dan itu benar, karena saya sudah merasakannya sendiri. Semakin dewasa, seseorang akan semakin tahu apa yang dia inginkan dalam hidup, apa tujuan hidupnya, prioritasnya, mana yang harus dia pertahankan dalam hidupnya dan mana yang pelan-pelan harus dia buang dan tinggalkan. Hal itu berlaku juga untuk orang-orang yang ada atau pernah ada di dalam hidup kita.

    Merelakan memang tidak mudah, apalagi merelakan orang-orang yang kita sayangi, yang semula ada lalu mendadak tidak ada. Tapi, bukan kapasitas kita juga untuk menahan orang-orang yang pernah ada untuk terus-terusan ada.

    Percayalah, menahan mereka yang ingin pergi hanya akan membuat kamu terlihat menyedihkan. Ikhlaskan, relakan, dan yakinlah bahwa segala sesuatu yang ditakdirkan untuk ada di dalam hidup kita akan selalu menemukan jalannya. Sebaliknya, seberusaha apapun kita menahan, yang pergi akan tetap pergi tanpa bisa kita tahan sama sekali.

    Sebagai penutup, tulisan di atas hanyalah opini saya, jika ada yang tidak sependapat itu bukan masalah sama sekali, sebab dunia ini memang penuh dengan perbedaan, kan?

Terimakasih sudah membaca.


catatan: tulisan ini pernah saya post di quora.

Kamis, 24 September 2020

Puisi - Tanpa Nada Tanpa Jiwa



Bulan sudah bergerak merangkak menuju sepuluh

Tapi hidup seakan tak berpindah ke mana-mana

Terasa diam di tempat dan makin membuat pening kepala

Ingin rasanya merutuk dan mengamuk,

tapi... pada siapa?

tapi... untuk apa?

Dibanding menyalahkan hidup, rasanya lebih menyenangkan menikmatinya saja

Merasakan waktu senggang yang sedikit lebih lama daripada seharusnya

Merasa terpenjara dalam tempat yang seharusnya menjadi satu-satunya tujuan kembali

Ah! Bahkan, tulisan ini saja terasa hambar, tanpa nada, tanpa jiwa

Hanya kosong